Gif: Tumblr (dreaming-when-lights-are-gone)
Ini tentang cerita cinta yang biasa saja. Tentang seorang pria yang
berjalan di sebuah trotoar basah. Air hujan kala itu menyamarkan genang
di matanya.
Tidak terjatuh. Air itu menggantung di pelupuk. Seperti rasa sesal
yang tertumpuk. Bintik air mulai membasahi kemeja birunya. Ujung dasinya
ia gulung kemudian dimasukkannya ke kantung kemeja, seperti enggan
membuka dasi itu sama sekali. Tak ingin kebasahan, tapi melindunginya
pun setengah hati.
Ada yang istimewa dengan dasi hitam itu.
Seolah tak takut pada rintik hujan, pria itu sama sekali tak
mempercepat langkah kakinya. Tak ada kenaikan volume suara dari pantofel
yang beradu dengan trotoar. Sesekali ia menengok ke kiri. Toko dan
kedai satu persatu ia lewati.
Kali ini dia meluruskan tangannya ke depan, hanya untuk
menyingsingkan lengan kemejanya, lalu membengkokkan sikunya hingga
pergelangan tangan mendekati dada. Jarum jam di jam tangan hitamnya
menunjukkan pukul 5.47 sore.
Sudah dua blok pria itu berjalan. Bahunya sudah membentur bahu orang
lain tiga kali, hampir bertabrakan melawan lalu-lalangnya orang.
Pria itu memperlambat langkahnya, menengadah ke langit. Namun kini
tak ada lagi titik air menjatuhi wajahnya. Hujan sudah reda. Ia
bersandar di dinding sebuah toko roti. Seperti banyak yang dipikirkan,
dahinya mengerut. Bola matanya menatap ke arah sudut kiri kelopaknya.
Tangannya mengepal. Ia memukul tembok. Kesal. Sekaligus terkejut. Ada
sesosok pria terduduk satu setengah meter di kiri pria itu. Seorang
pria lainnya. Sesosok pria tak berumah.
Gelandangan itu memegang sepotong kardus bertuliskan “uang, atau sebuah senyuman”.
Foto: Tumblr (thatfuckedupglory)
Mata sang pria memincing. Namun kemudian ia tersenyum. Berjalan
perlahan mendekati si gelandangan, merogoh kantung celana bahannya,
kemudian membungkuk. Diberikannya beberapa keping koin kembalian membeli
kopi tadi sepulangnya bekerja. Pria itu tersenyum sekali lagi.
Gelandangan itu bertanya, “Hendak ke mana, Nak?”
“Entahlah. Aku pun tak tahu.”
“Mengapa berjalan jika tak tahu tujuan?”
“Aku ingin bertemu seseorang.”
Gelandangan itu menatap wajah sang pria lebih dalam dari sebelumnya,
sebelum kemudian mengangguk perlahan mengusap janggut putihnya yang
lebat. “Mengapa kamu memberikan semuanya?”
“Aku hanya memberikanmu koin,” jawab sang pria sedikit terheran, “bahkan ini masih ada sisa koin di sakuku.”
“Bukan. Aku hanya meminta uang, atau sebuah senyuman.”
“Ah, iya. Kalau bisa memberi semua, mengapa harus salah satu?”
Gelandangan itu tersenyum. “Kejarlah, Nak. Jangan setengah-setengah.”
Sang pria terdiam. Matanya terbuka. Ada degupan kencang di dadanya
seraya ia berdiri kembali. Seketika ia melanjutkan langkahnya.
Mempercepatnya. Bukan. Berlari!
Bagian bawah kemejanya mulai mengering, hanya tinggal bagian bahunya
saja yang basah. Pria itu berhenti di satu persimpangan. Tepat di depan
sebuah kios majalah. Sang pria menatap ke arah tiang lampu lalu lintas.
Bibirnya terbuka membaca perlahan tulisan dari spidol merah di tiang
itu.
“
Jio.“
Ia berbalik dan menoleh ke arah kios majalah. Sontak pikiran pria itu
terlempar jauh ke belakang. Tergambar sosok perempuan berambut panjang,
tak terlalu lurus, sedikit ikal. Hidungnya tak mancung, malah cenderung
besar. Pipinya pun mengingatkan pria itu tentang bakpao yang sering
dijadikannya bahan ejekan untuk sang perempuan. Pria itu memanggilnya
Jio.
Pria itu ingat betul perempuan yang ada di bayangannya sekarang
sering mengeluhkan dirinya gendut. Perempuan yang sering merasa gendut
itu telah membuat sang pria kurus karena sering memikirkannya.
24 menit sudah sang pria berdiri di persimpangan jalan itu. Selama
itu, ia menancapkan tatapan ke kios majalah. Menunggu. Pria itu sesekali
melihat jam tangannya. Kali ini jam tangannya menunjukkan pukul 6.57
malam.
“Harusnya sudah datang,” gumamnya.
Hingga
Jio akhirnya tiba di kios majalah. Berbicara kepada
penjaganya, menyerahkan sejumlah uang, dan mengambil majalah bergambar
rumah di
cover-nya.
Degup di dada sang pria semakin kencang. Ada lagi informasi kecil yang membangkitkan memori.
Jio suka hal berbau interior. Pria itu mendadak ingat pernah membelikan
Jio kursi unik berbentuk segitiga berwarna hijau sebagai hadiah ulang tahunnya.
Dengan keberanian terbesar yang selama ini ia kumpulkan, pria itu melangkah menghampiri
Jio. Berhenti dan berdiri tetap di hadapannya.
Jio terkejut, kemudian melihat dari kaki hingga kepala pria itu.
“
Jio, aku cuma ingin meminta maaf.”
“Nggak ada lagi …”
Belum selesai
Jio bicara, pria itu menyambarnya. “Seumur hidupku aku nggak bisa hidup seperti ini. Hidup yang tanpa kamu di dalamnya.”
Jio terhenyak. Pipinya basah. “Aku yang harusnya minta maaf.”
Jio melangkah ke arah kanan pria itu. Cepat.
Belum sempat pria itu mengejar,
Jio sudah disambut seorang pria dengan raut wajah agak kebingungan. Bahasa bibirnya menunjukkan, “Kamu kenapa?” bertanya kepada
Jio, kemudian melayangkan sebuah pelukan di pundak.
Pria itu bergeming. Matanya menatap nanar. Bertambah lagi
perbendaharaan sekuen pahit di hatinya. Yang bisa ia lakukan hanyalah
merogoh sisa koin di kantung celananya, kemudian memandanginya. “Mengapa
waktu itu tak kuberikan sepenuhnya?”
Pria itu menyesal karena tak selalu ada. Ia menyesal karena tak
memberikan semua yang dipunya. Ia longgarkan simpul dasi hitam di kerah
kemejanya dengan tangan kiri. Menggoyang-goyangkannya sedikit, kemudian
melepasnya. Tak membuangnya, tapi menggenggamnya. Seperti hatinya masih
ingin menggenggam, tapi harus melepas.
Kini, dahinya hanya bisa mengerut, menahan air mata untuk tak jatuh. Hanya tak ingin kelihatan cengeng.
Namun ada yang tak biasa dari alis tebalnya yang mengernyit. Sebuah
petir menghunjam denyut jantungnya berupa rasa sakit. Sakit luar biasa,
yang semuanya bermuara pada satu frasa. Rasa sesal.
Ini tentang cerita cinta yang biasa saja. Tentang seorang pria yang
mencinta dengan biasa. Sebiasa ia bernapas. Saking terbiasa, hingga
akhirnya sang pria tak bisa hidup tanpanya.