Senin, November 18, 2013

-


Mungkin inginku terlalu sederhana.
Aku hanya ingin mendengar kamu yang mengetuk di depan pintu.
Aku hanya ingin sekali lagi melihat wajahmu, meski hanya dari balik jendela.
Aku cuma mau kamu, sosok yang nyata ketika aku membuka pintu.
Aku hanya ingin di depan tungku perapian, bersamamu ketika dingin menerpa.

Bisa saja mauku terlalu sempurna.
Menjadi orang yang kaupilih di antara sempurnanya sosok-sosok yang ada.
Menjadi orang yang kaupilih untuk kauambil hatinya, kemudian kaujaga.
Menjadi makhluk yang kaumau, untuk berbagi hidup selamanya.
Menjadi orang yang kaupilih dan menjadi orang paling beruntung di dunia.

Namun kenyataan terlalu berbeda.
Kamu mengisyaratkan ‘selamat tinggal’ terlalu dini.
Ada sedikit mati kurasakan di sini.
Hatiku sudah terlanjur kamu bawa pergi.
Semuanya sebelum aku berhasil ungkapkan aku ingin memiliki.

Dan kini, semuanya sudah terlalu jelas.
Ternyata aku hanya seorang aneh yang merindu pelangi senja.
Seonggok tak sempurna yang mendamba dewi fortuna.
Setitik hitam yang inginkan kilau cahaya.
Seretak gersang yang haus air surga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar